My Salwa My Palestine (sinopsis)

Identitas Buku :
Judul Buku                  : My Salwa My Palestine

Pengarang                  : Ibrahim Fawal

Penerbit                     : Mizania

Tahun terbit               : mei 2007

Jumlah Halaman        : 586

Tokoh utama dalam novel ini adalah Yousif Safi dan Salwa. Di tengah-tengah gejolak politik Palestina, cinta dua orang muda ini juga sedang bergolak karena tidak mendapat restu orang tua Salwa. Yousif Safi memiliki dua orang sahabat, Amin dan Isaac. Tiga sahabat ini melawati sekolah dasar dan sekolah lanjutan berama-sama. Bersama pula mereka telah tumbuh dari masa bercelana pendek dan bercelana panjang, belajar menghargai perempuan, dan bersenang-senang menangkap burung di gunung. Yousif, Amin, dan Isaac berasal dari latar belakang yang berbeda. Yousif beragama Kristen dan anak tunggal seorang dokter yang paling terkenal di kota dan tak ada yang ragu bahwa ia kaya. Amin seorang Muslim dan anak seorang pembelah batu dan seluruh keluarganya tinggal dalam sebuah rumah berkamar satu di distrik paling tua. Isaac seorang Yahudi dan anak pedagang kain di sebuah toko kecil. Perbedaan di antara ketiganya tidak melunturkan persahabatan mereka. Namun, persahabatan itu akhirnya hancur tak bersisa ketika terjadi pergolakan masyarakat Palestina karena resolusi yang telah diputuskan PBB. Isaac yang notabene seorang Yahudi harus bergabung dengan Zionis untuk melawan Arab, yang di dalamnya ada Yousif dan Amin. Yousif tidak begitu saja setuju untuk angkat senjata melawan Zionis. Yousif yang notabene seorang pelajar yang cerdas menginginkan adanya jalan diplomasi dengan pihak Zionis. Dia menyadari angkat senjata melawan Zionis hanya menyisakan badan-badan tak bernyawa. Namun, perang akhirnya pecah juga. Yousif harus menerima kenyataan ikut serta mengangkat senjata melawan Zionis. Di tengah-tengah pergolakan itu, cinta Yousif pada Salwa pun terus bergolak. Yousif tak bisa berdiam diri saja melihat Salwa berdampingan dengan lelaki lain di hari pernikahan.
Kisah dalam novel ini tambah menarik karena diwarnai lika-liku cinta antara Yousif Safi, sang tokoh utama, dan Salwa, seorang gadis cantik di kotanya. Bukan sekadar kisah romantisme sebagai pemanis atau bumbu belaka. Bukan pula kisah cinta remaja yang penuh kecengengan. Yousif bahkan menempatkan Salwa dan Palestina pada tataran yang sama. Cintanya terhadap Palestina sama besarnya dengan cintanya terhadap Salwa. Bahkan ada benang merah yang menghubungkan bahwa perjalanan cintanya terhadap Palestina memiliki alur yang mirip dengan kisah cintanya terhadap Salwa. Inilah kisah seorang anak manusia yang terjebak dalam situasi yang menguji kesetiaannya pada Tuhan, tanah air, dan kemanusiaan.

1

Pada musim panas kebahaagiaan terakhir di Palestina, Yousif Safi, remaja berusia 17 tahun, terbangun oleh alunan suara azan yang sudah dikenalnya.belum genap pukul 6, tapi begitu ia membuka mata, ia sepenuhnya terjaga. Pada hari di awal Juni 1947 itu, rumah baru tersebut akan dipasangi atap.

10 tahun penantian orangtuanya untuk membangun rumah seperti ini. Minat Dokter Jamil safi adalah membangun dan mengembangkannya. Telah banyak sarana dan prasarana kota Ardallah dibangunnya. Tak heran, penduduk memintanya menjadi wali kota. Inggris, yang secara efektif menguasai Palestina telah menawarinya posisi walikota beberapa kali. Namun sang dokter selalu menolak, puas dengan hanya menjadi anggota dewan kota.

Tak lama setelah Yousif menyelesaikan sarapan dan memberi makan burung-burungnya, rumah tua itu mulai penuh. Satu setengah jam kemudian, momen kebahagiaan itu segera berlangsung. Pastor Mikhail dan Yacoub memanjatkan doa secara bergantian, bersyukur kepada Tuhan atas rahmatnya dan memohon agar para orang suci dan malaikat menjaga keluarga Safi dan menghindarkan rumah mereka dari gangguan pandangan iri dan roh jahat. Setelah memanjatkan doa, hidangan disiapkan dan pestapun di mulai.

Bagi Yousif, semua keramaian itu tak lengkap sampai ia melihat Salwa Taweel. Yousif sudah jatuh cinta semenjak gadis itu datang kerumahnya sejak dua tahun yang lalu bersama ibunya.

Tengah hari, sebuah limusin hitam tiba, dikawal dua jip penuh dengan tentara Inggris. Banyak para lelaki berbaris menyambut para pejabat tinggi itu. Yousif merasakan kecamuk emosi ketika melihat orang-orang Inggris itu. Ia tahu persoalan antara Arab dan Yahudi tak akan timbul kalau Inggris tak menetujui tuntutan kaun Zionis.

Langit biru Ardallah tak dapat menyembunyikan persoalan-persoalan yang menyungkup Palestina pada 1947 dan riuhnya konflik antara Arab dan Yahudi mengenai siapa leluhur yang lebih berhak atas tanah Palestina.

Tiga minggu kemudian keluarga Yousif pindah kerumah baru mereka yang berkamar tidur lima. Suatu malam Yousif dan kedua orangtuanya berdiri di balkon. Membahas rencana ayahnya yang ingin membangun Rumah Sakit di Ardallah. Namun, karena memerlukan biaya yang besar, Ayahnya tidak tau apakah kota ini akan mampu membangun Rumah Sakit.

2

Mengenakan celana panjang yang tersetrika rapi dan baju sport berlengan pendek, Yousif dan dua temannya, Amin dan Isaac, pergi jalan-jalan sore sebagai ritual tetapnya di hari minggu. Yousif beragama Kristen, Amin Muslim, dan Isaac Yahudi. Mereka telah menjadi sahabat yang tak terpisahkan sejak mereka terlahir di kota ini. Tak ada dari ketiga bocah itu yang ingin mengikuti jejak ayah mereka.

Pada hari Minggu itu, ketiga sahabat saling meyenggol ketika melihat serombongan yang terdiri dari Sembilan turis turun dari bus jurusan Jerusallem-Ardallah, yang berhenti di Saha, tanah terbuka dekat jalan masuk kota. Seorang wanita muda yang cantik hanya mengenakan celana pendek, memperlihatkan kaki dan pahanya, bertolak belakang dengan para wanita Muslim, yang bahkan menyembunyikan wajah mereka di balik cadar hitam.

“mereka pasti Yahudi” kata Yousif

Ketiga remaja itu mengikuti rombongan ersebut menembus trotoar yang penuh dengan hiruk pikuk. Untuk apa mereka membawa tas-tas kanvas besar, kamera-kamera dan teropong? Untuk apa pula tripod itu? Yousif menduga mereka membawa peralatan survey. Suasana hati Yousif berubah. “Mereka mungkin Zionis”

“Memangnya kenapa?, lagian apa sih zionis itu? Semacam orang Yahudi aneh kan? Isaac, kamu Zionis?” Tanya Amin tak sabar.

“Kamu gila, tentu saja aku bukan Zionis.” Jawab Isaac

“Kamu tau apa itu Zionis?” desak Amin

Isaac memandang sekeliling. “Mereka anggota sebuah partai politik. Kebanyakan Zionis adalah Yahudi, tapi tidak semua. Mereka hanya anggota sebuah partai politik. Mereka punya maksud, tujuan, dan ideology sendiri. Betul kan, Yousif?”

Isaac mengetahui jalan pintas agar mereka bisa sampai ke tempat tujuan lebih cepat dari kelompok turis itu. Dan benar, mereka sampai lebih dulu.Amin malah melangkah kian ke pinggir batu dan memanjangkan lehernya untuk melihat kemana orang-orang itu pergi. Isaac mengingatkan. Namun, Amin menginjak bagian batu sedemikian rupa sehingga batu itu terguling. Yousif dan Isaac terlambat menangkap Amin, sehingga Amin terjatuh dan sebuah batu besar menggencet lengan kirinya.

3

Amin mebuka matanya seraya menyeringai. “tanganku patah.” Katanya. Dengan hati-hati Yousif dan Isaac mengangkat batu besar yang menindih lengan Amin. Tampak tulang dengan sisi yang tajam menyembul di atas sikunya. Yousif mengikatkan sapu tangan di sekeliling lengan itu. Keduanya memberdirikan tubuh Amin untuk mengantarnya segera ke rumah. Tebing itu begitu curam. Toh, tak sedetikpun Yousif melupakan orang-orang asing itu. Begitu sampai dijalan besar, lewat seorang pengendara kuda. Ia mengatakan ia adalah Fayez Hamdan. Fayez bersedia mengantar Amin pulang ke rumahnya. Merekapun pulang. Semua berjalan kaki kecuali Amin.

Rumah Amin terletak di wilayah paling tua dan miskin di Ardallah. Ibu Amin, yang di panggil Bibi Tamam tergopoh-gopoh sedih dan cemas melihat keadaan anaknya. Bibi Tamam memanggil Abu Khalil, seorang dukun tulang untuk mengobati anaknya. Abu Khalil memang sudah berpengalaman, tapi cara kerjanya benar-benar tidak steril.

4

Suasana makan malam hari itu. Di meja makan, Yousif menceritakan kepada orangtuanya apa yang terjadi pada Amin, di hutan dekat daerah lengkungan Roma. Cerita Yousif terhenti saat ibunya menyuruh Yousif untuk segera berpakaian, karena mereka akan menghadiri pertunjukan special di Hotel Al-Andalus. Yousif sebenarnya bermaksud kembali menemani Amin, tapi ia tak tahan ikut orangtuanya ke taman hotel. Lagi pula, kemungkinan besar Salwa juga ada disana. Ia akan bercerita kepada gadis itu tentang pengalaman sore itu.

Hotel Al-Andalus benar-benar meriah. Acara sudah di mulai. Lagu sudah dinyanyikan oleh Trio yang terkenal di kota itu:

“andai saja aku punya cincin keinginan, dan menguasai gadis-gadis selama sehari.” Begitulah terdengar alunan lirik.

Setengah jam kemudian, Salwa muncul dari belakang panggung. Mereka berdiri berhadapan tanpa berkata-kata. Lalu mereka pun berdansa. “apa yang akan kamu lakukan jika punya cincin keinginan?” Tanya Salwa.

Yousif ragu-ragu. Salwa adalah gadis tercantik di seluruh taman. Yousif menyukai tubuh Salwa yang semampai, matanya yang besar seperti almond, alisnya yang melengkung, dan lehernya yag jenjang. Yousif menyukai rambutnya yang sebahu dan cokelat kemerahan. Juga senyumnya. Dan bibirnya yang merah membuat Yousif terpesona dam membuat darahnya berdesir. “aku ingin kamu menjadi istriku.” Jawab Yousif. Salwa tertawa.

5

Tak sengaja Yousif bertemu Amin sedang berbincang dengan Isaac di depan tokonya. Yousif khawatir melihat tangan kiri Amin, terutama kuku-kukunya yang berubah membiru. Yousif menyuruh Amin untuk pulang, dan Yousif akan memanggil ayahnya untuk mengobati Amin. Sang dokter yang  telah memeriksa Amin, memutuskan untuk membawanya ke Rumah sakit Pemerintah di Jaffa. Yousif juga ikut menemani. Bermalam di Jaffa. Dan paginya, hal itu terjadi. Tangan Amin terkena gangrene yang hanya dapat dihentikan melalui amputasi.

Malam itu. Hati dan pikiran Yousif dilanda kesedihan terhadap Amin ketika ia melihat teman-teman kerabat yang hadir di rumahnya. Tapi diantara semua yang datang, tak ada yang lebih mengesankan di banding Basim. Ia sangat membenci kaum Zionis yang memerangi orang-orang Arab. Basim adalah veteran yang pernah bertempur baik melawan Inggris maupun Zionis pada tahun 1936 dan 1937 dan di asingkan dari Palestina dari tahun 1939 hingga akhir tahun 1944.

Yousif menceritakan kejadian yang menimpa Amin dan para turis yang mereka ikuti itu, kepada Basim. Juga tentang kecurigaan Yousif bahwa para turis itu adalah mata-mata Zionis. Basim percaya cerita yang di lontarkan Yousif dan menyimpulkan bahwa kaum Zionis akan melakukan hal yang sama seperti yang terjadi di tahun 1936. Suasanapun berubah seketika. Semua yang hadir membahas tentang kaum Zionis dan apa yang akan mereka lakukan terhadap Palestina. Yousif dapat membaca ketakutan di wajah orang-orang sekitarnya.

6

Pagi itu, keluarga Yousif dikirimi hadiah dari seorang keluarga sahabat. Sebanyak dua ribu buah jeruk. Ibunya memutuskan untuk membagi-bagikan jeruk itu kepada kerabat sebelum membusuk. Tentu saja Yousif senang, karena ia akan mengantarkan jeruk itu ke rumah Salwa.

Sesampainya di rumah Salwa, tak terlihat keberadaan Salwa. Hanya dua orang adiknya, Akram dan Zuhair. Yousif sudah lama diminta orang tua Salwa untuk mengajari pelajaran sekolah kedua bocah itu. Lantas, kedatangan Yousif tak hanya untuk mengantar jeruk namun mengajar Akram dan Zuhair.

Mereka belajar di halaman, dan memiih duduk di bawah pohon ara yang besar. Sementara ia menerangkan tata bahasa Arab, didengarnya suara langkah Salwa dan melalui sela-sela dedaunan kemudian dilihatnya gadis itu. Tangan kanannya membawa piring berisi buah beri. Yousif berpikir itu hanya alasan Salwa agar bias menjumpainya. Dengan pikiran demikian, Yousif tersenyum.

Yousif memberi kedua bocah itu soal-soal yang banyak, lalu menuju tempat Salwa berdiri. Mereka lalu berbincang-bincang sejenak, sampai akhirnya Ibu Salwa memanggilnya masuk dan Yousif kembali mengajar adik-adik Salwa.

Yousif jadi memiliki minat baru, yaitu politik. Suatu malam, orangtua Yousif kedatangan tamu penting. Pokok pembicaraan yang paling menarik malam itu adalah apa yang akan dilakukan Inggris terhadap Palestina. Mandatnya akan segera berakhir. Mereka umumnya yakin Inggris akan bertahan.

Mereka takut, masalah regional akan berkembang menjadi masalah Internasional dan kekuatan-kekuatan dunia akan bermain bola di Palestina. Malam itu, Yousif tertidur dengan pemahaman bahwa bangsa Palestina punya banyak alasan untuk khawatir.

7

Pada hari Senin pertama bulan September, Yousif bangun lebih awal dari biasanya. Saatnya kembali ke sekolah. Ini adalah tahun terakhir Yousif di bangku sekolah, ia terus berpikir ke universitas mana ia akan melanjutkan pendidikannya. Di sisi lain ia bertanya, apakah Salwa dapat meneruskan pendidikan? Karena, kebanyakan gadis akan segera menikah dan punya anak begitu lulus SMA. Apa yang akan ia lakukan jika ada yang melamar Salwa?

Di akhir November, langit begitu kelabu. Hari itu adalah hari pemungutan suara di PBB tentang pembagian Palestina. Yousif dan dua sahabatnya melewati Kafe Fardous. Halaman kafe penuh dengan orang-orang dan radio dibunyikan dengan volume penuh. Tiba-tiba music berhenti dan terdengar suara penyiar, “berita tentang sebuah kejadian bersejarah akan segera di siarkan. Tetaplah berada di stasiun ini.”

“Kota suci Jerusalem dan sekitarnya, menjadi hak internasional. Mandate Inggris akan berakhir dan Inggris akan pergi bulan Agustus mendatang. Hasil pemungutan suara yang mengejutkan telah keluar. Tiga puluh tiga anggota mendukung resolusi, tiga belas menolak, dan sepuluh abstain. Di antara yang mendukung adalah Amerika Serikat dan Uni Soviet. Di antara yang abstain adalah Inggris Raya. Delegasi Negara-negara Arab di PBB sangat terkejut, melihat bagaimana Amerika Serikat telah memaksa Negara-negara lain mendukung pembagian Palestina. Bahkan Negara besar Perancis di ancam tak menerima lagi bantuan luar negeri Amerika kalau tidak mendukung rencana pembagian. Tapi yang paling mengejutkan adalah berbaliknya posisi suara Filipina. Suara ‘ya’ Filipina menggambarkan bagaimana tekanan Amerika terhadap anggota-anggota PBB.”

Suasana seketika berubah menjadi riuh penuh kemarahan. Ditengah kerumunan, Yousif mendengar suara yang di kenalnya, Basim. Berdiri di puncak tangga seraya menyeru kepa orang-orang di kafe untuk mengingat hari ini sebagai hari yang memalukan. Basim pun berpidato, dan setelah itu pecahlah kemarahan semua orang di kafe dan menjadikannya sebuah demonstrasi yang anarkis.

Yousif membahas apa yang telah terjadi sore itu dengan orangtuanya. Sang Ayah yakin, satu-satunya yang akan terjadi dalam kondisi seperti ini adalah perang.

8

Pukul sepuluh esok paginya, Isaac belum juga muncul di rumah Yousif untuk belajar bersama seperti biasa setiap Minggu. Karena itu, Yousif dan Amin memutuskan untuk ke rumah Isaac.

Setelah sarapan bersama di rumah Isaac, mereka kembali ke rumah Yousif untuk belajar. Usai belajar, mereka berjalan-jalan melewati pasar dan melihat kerusakan yang diakibatkan demo sore kemarin. Toko-toko hampir semuanya sepi. Yousif mengkhawatirkan Isaac. Apakah orang-orang Arab ingat bahwa ia Yahudi? Akankah mereka melontarkan komentar menghina atau akan menyerangnya? Namun faktanya, tak ada yang berubah dari cara orang Arab melihat dan menyapa Isaac. Bagi mereka, Isaac tetap bagian tak terpisahkan dari tiga sahabat.

Seorang lelaki tua yang kelihatan compang-camping tengah melambai-lambaikan surat kabar. Tak mau kehabisan, Yousif membeli tiga surat kabar sekaligus. Tabloid Falastin menulis judul “SAATNYA PERANG SUCI”. Ad-Difaa menulis “SEKALI LAGI PERANG SALIB”. Dan Al-ahram menulis “GENG BARAT MENGHADAPI NEGARA-NEGARA ARAB”.Berita-berita dikoran itu membuat darah mereka bergolak. Namun, kini Yousif tengah mencemaskan masa depan. Ketika sampai di penggilingan tepung, mereka berpisah. Hari telah senja.

Hari senin, terjadi pemogokan Arab di Palestina. Namun, apa yang lebih penting bagi Yousif adalah ia tak tahu dimana Isaac berada. Begitu juga dengan pagi berikutnya. Isaac bahkan tidak masuk sekolah. Di sekolah, Pak Guru menunda ujian. Ia menceritakan dari awal Inggris menguasai Palestina hingga krisis yang mereka hadapi saat ini.

 

9

Hari ini Yousif izin tidak masuk Sekolah untuk menemani Ibunya menengok Bibi Widad (Saudara Kembar Ibu) di Jerusallem. Dengan menggunakan mobil Mercedes Makram Supir Yousif mengantar mereka ke Jerussalem, melewati Bukit Kastal Abubhadi. Jerussalem adalah kota yang indah, penuh dengan Gereja, Masjid, dan Sinagos. Itulah yang membuat kota ini special di mata Yousif. Teringat kembali oleh Yousif kenangan-kenangan yang diukurnya di Jerusallem, tempat-tempat kuno dan modern di Jerussalem, saat dia pergi jalan-jalan dengan Kakek dan neneknya ke Distrik Tua Musrava, pergi bersama saudara-saudara sepupunya ke kawasan Modern Qatemon, aroma sedap dan eksotif yang meruap dari makanan di restoran-restoran dan café di pinggir jalan, bunyi lonceng gereja, azan masjid, dan keriuhan para pedagang serta lalu lintas yang ramai terus berkutat di benaknya.

Setelah melewati perjalanan yang panjang, tibalah Yousif dan Ibu di Jerusallem, Kota kecintaan Yousif, tetapi alangkah terkejutnya Yousif melihat Jerusallem sekarang, apa yang ia bayangkan sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ia lihat, ini bukan Jerusallem, ini kuburan, dimana-mana penuh dengan reruntuhan. Seperti kota mati, ini bukan Jerusallem yang Yousif harapkan. Dengan rasa kecewa Yousif meneruskan perjalanannya ke Rumah Sakit Perancis dimana Bibi dirawat. Bertemu dengan Bibi Widab bias mengobati rasa kecewa Yousif. Bibi adlaah orang yang baik, sangat lucu melihatnya memiliki wajah yang sama dengan Ibu dari hasil pengamatan Yousif yang dapat membedakan Ibu dan Bibi adalah Bibi memiliki warna kulit seperti kulit buah zaitun. Sedangkan Ibu putih dan Bibi juga kelihatan sedikit lebih tua dari Ibu.

Bibi menceritakan masalah yang sering dia hadapi akhir-akhir ini. Dari sakit kantung empedu sampai dengan Resolusi PBB yang banyak menimbulkan konflik. Setelah puas mendengar cerita Bibi Yousif dan Ibu pamit, dan pergi berjalan kaki sebentar di Jerusallem. Saat mereka berada di Noture Dame untuk pergi menyalakan lilin di Qiyamah sebuah keributan  besar terjadi. Ada seorang arab yang di kejar oleh tentara Inggris, hal ini membuat penduduk Arab keluar dari kediamannya dna  menyaksikan aksi kejar-kejaran itu.

Tentara : “Tangkap dia, dia membawa bom!”

Arab yang dikejar : “Bohong, jangan dengarkan dia”

Karena yang dikejar adalah penduduk Arab maka orang-orang yangberada disekitarnya lebih memercayai orang Arab yang dikejar tersebut dan menangkap Tentara Inggris itu. Sungguh malang ternyata kali ini Tentara Inggris itu tidak berbohong beberapa saat kemudian bom itu meledak dan menghancurkan semuanya. Karena kerusuhan itu Yousif dan Ibu gagal ke Qiyamah dan berakhir dengan berjalan ke Al-Wad disini Yousif menemui sesuatu yang janggal. Ia melihat orang Yahudi berpakaian hitam dan membawa senapan sibuk mengawasi mereka, Yousif tidak menggubrisnya dan meneruskan perjalanan. Sesampainya di tikungan Yousif melihat mobil  membawa 2 drum, dan drum itu di gelindingkan ke Pemberhentian Bus. Yousif curiga mungkin isi drum itu bom?. Rasa curiga iru terjawab dengan benar drum itu mengenai bus dan seketika bus itu meledak. Orang-orang yang melihat panic dan berlarian memasuki gedung terdekat. Yousif terkejut ketika drum lagi ternyata belum meledak dan membelok kea rah gedung itu, Yousif berteriak menyuruh mereka pergi dari gedung itu, sayangnya usaha Yousif gagal. Drum itu berhasil meledakkan gedung beserta isinya. Itu sangat mengerikan. Badan Yousif dan Ibu bergetar. Ketika itu datanglah Makram menjemput mereka, dengan rasa ngeri yang terus menyelimuti, mereka pulang dan sampai di Ardallah dengan selamat.

 

10

Esok paginya separuh penduduk Ardallah terbangun oleh kabar mengerikan dari Jerusallem.  Jumlah korban meningkat dari 10 menjadi 27 orang tewas dan 62 luka-luka. Salah satu korban yang tewas ternyata adalah penduduk Ardallah, George Mutan.

Hari ini Ardallah seperti diselubungi awan hitam, langit-langit meneteskan air matanya. Seluruh penduduk Ardallah berduka karena hari ini adalah hari pemakaman George. Isak tangis dan raungan Ibu George tambah membuat hari seluruh penduduk Ardallah runtuh. Seluruh penduduk Ardallah mengenal George dan Ibunya. Mereka selalu tertimpa musibah yang berat, dan sekarang Ibu itu harus menanggung sendiri tanpa George. Sungguh tragis. Mourits Ayah Issal adalah seorang Yahudi yang hadir di pemakaman itu dank arena itu menjadi korban amukan dan Sukri Paman George. Sungguh kasihan dia dankeluarganya dimaki-maki dan diusir dari pemakaman, kecuali istrinya dengan terpaksa ia pergi dari pemakaman itu. Yousif mengikuti mereka untuk menenangkan Issal. Setelah pemakaman selesai, Ayah Yousif dating mengantar Ibu Issal dan mengunjungi keluarga Mourits, dan bercengkrama dengan mereka. Tiba-tiba terjadi penembakan dari seorang tidak dikenal yang merusak rumah Mourits. Penyerang itu mengusir Mourits dia mau Mourits keluar dari Ardallah. Karena dia dan keluarganya adalah Yahudi. Setelah si penyerang pergi, situasu menjadi tidak karuan serasa menjadi tegang, tidak tahu harus berbuat apa. Dan akhirnya ayah Yousif mengambil inisiatif untuk mengajak Mourits sekeluarga tinggal dirumahnya dan Mourits yang awalnya menolak akhirnya menyetujui ajakan Ayah Yousif. Di rumah Yousifmereka sangat diterima dan keadaan menjadi sedikit lebih baik. Esok harinya Mourits dan keluarganya pulang ke kediamannya karena sudah merasa lebih baik.

 

11

Yousif berada di beranda barat sambil menunjukkan Anglo dan sambil memikirkan Masyarakat Yahudi yang diusir keluar dari Ardallah. Ketika itu pulanglah ayah Yousif dengan pakaian yang basah dan terlihat lelah. Ayah Yousif mengatakan bahwa dia tidak sempat menyelamatkan seorang bayi yang mengidap penyakit Pneumonia.

Ayahnya duduk di sofa sambil memegang buku kerangan Alma’ari yang digemarinya dan membahas isi puisi itu dengan Yousif. Seketika pembicaraan itu terhenti karena bunyi bel. Ibu Yousif membuka pintu dan ternyata Basim yang datang. Basim adalah keponakan ayah Yousif, salah satu pejuang Ardallah, ibu mempersilahkan Basim masuk dan bergabung dengan Yousif dan ayah. Mereka berbincang-bincang di ruang tengah, di sela-sela pembicaraan Basim mengatakan bahwa Palestina telah lepas dari tangan rakyat Palestina dan itu  membuat wajah ayah tampak muram, setelah pembicaraan itu usai tiba-tiba Basim mengeluarkan sebuah kantong besar yang berisi berlian dan emas. Ternyata tujuan Basim datang kerumah ini untuk menukar semua  berlian dan emas itu dengan uang agar bias membeli senjata untuk melawan Yahudi atau Tentara Inggris yang menyerang. Basim memaksa ayah karena tidak punya pilihan maka ayah memberikan uang itu pada Basim sebesar 350 Pound. Setelah itu Basim izin pulang karena besoknya akan bersiap-siap untuk pergi kemedan perang.

 

12

Hari ini Salwa dan Huda datang kerumah Yousif untuk menemui Ibu Yousif dan berbincang-bincang dengan akrabnya. Yousif sangat senang melihat kedatangan salwa. Matanya tidak bisa lepas dari Salwa. Perempuan itu adalah kekasih Yousif. Setelah lama bercengkrama salwa dan huda pamit pulang. Yousif yang belum puas bertemu salwa yang sudah lama tidak bertemu mengikuti salwa, Yousif berjalan melintasi Souk melewati Apotek Salman, toko Mossi Salan, terminal bus, dan mulai berjalan naik menuju distrik baru.ketika sampai di dekat Hotel Roda, tampak sekilas mantel hijau salwa ditengan kabut yang menyelubungi Ardallah. Seperti selimut kelabu, Yousif mempercepat langkahnya dan menyiulkan nada untuk member tahu gadis itu bahwa ia ada dibelakangnya. Kedua gadis itu berbelok dan akhirnya berpisah. L alu salwa menempuh jalan pintas sepi dan bertemu dengan Yousif.

Salwa : “Ku harap tidak ada orang yang melihat kita”

Yousif: “Aku tak percaya kau datang kerumahku”

Salwa :”aku berusaha untuk menemuimu sebisaku”

Yousif menarik tangan perempuan itu dan Salwa segera melepasnya

Yousif : Aku Cinta kamu Salwa”

Tiba-tiba ada cahaya kuning yang kilau secara refelek Yousif pergi ke Seberang jalan sepi itu setelah cahaya itu tak ada lagi Yousif kembali ke sisi Salwa dan menjejerinya.

Salwa : “Aku takut”

Yousif : “Tentang apa”

Salwa : “Perang”

Yousif : “Kita semua khawatir.” Ayah bilang kalau kita kalah maka kita akan diusir dari sini.

Salwa : “Tidak ada alas an untuk kalah”

Yousif : “Aku tidak bias membayangkan mereke mengusir kita. Kau akan ke Lebanon dan aku akan ke Syira atau Yordania, apa yang akan terjadi aku tidak bisa kehilanganmu”

Salwa : “Cukup lakukan bagianmu, semuanya akan baik-baik saja, jangan biarkan imajinasiku kemana-mana”

Mereka sudah hampir tiba di  mulut jalan, Yousif tahu kalau sudah sampai di mulut jalan mereka tidak bias bersama lagi karena jika orang melihat Yousif berjalan bersama maka itu akan menimbulkan fitnah. Yousif mencoba mencium salwa tapi salwa menolak. Akhirnya mereka berpisah setelah sampai di mulut jalan, Yousif berjalan kearah berlawanan dengan salwa danbertemu dengan salah seorang temannya, temannya itu bercerita kalau salwa sering bolak balik datang kesini untuk mencari Yousif. Tapi tidak menjumpainya. Mendengar itu Yousif langsung berlari mengejar Salwa dan menemukannya.

Yousif:”ada apa salwa”

Salwa : Ini tiket bioskop, aku tunggu kamu disana. Aku tidak bisa bercerita disini”

Yousif : “Baiklah”

Akhirnya Yousif pun datang ke bioskop dan melihat Salwa bersama Huda. Melihat kedatangan Yousif. Huda pindah tempat duduk dan mempersilahkan Yousif duduk. Ia melihat ketegangan diwajah Salwa, ditatapnya gadis itu lembut dan diraihnya tangannya. Diluar dugaan Salwa membalas mencengkram jemari Yousif. Untunglah disini agak sepi  jadi tidak ada yang melihat.

Yousif : “ada apa”

Salwa : “Adel Farhat berencana meminangku” ungkapnya sambil menatap Yousif. Yousif terperanjat, “Apa? Adel Farhat?

Salwa : “Ia, asisten Manajer Hotel Al-Andalus itu, ujar salwa. Ia dan orang tuanya sudah dua kali mengunjungi kami.malam ini kami diundang kesana.

Kerongkongan Yousif tersumbat, kamu yakin mereka akan meminangmu?

Apa lagi? Yousif teringat lelaki itu sekarang. Dulu dia dan keluarga Salwa pernah makan malah di Hotel itu. Yousif ingat bagaimana Adel Farhat mencoba meminta berdansa dengan Salwa, dan dia mengantar Botol Sampanye ke meja orang tua salwa. Sekarang potongan pasangan kejadian itu mulai bisa dirangkai.

Yousif       : kalau begitu jangan pergi

Salwa       : “Pergi kemana”

Yousif       : “Ke rumah mereka, kunjungan merkea hanya permulaan

Salwa       : “Ayah akan marah kalau aku mengacaukan janjinya”

Pembicaraan terus berlanjut.

Salwa       : “Aku belum mencoba melibatkan kamu” kata Salwa ragu-ragu.

Kata-kata itu membuat Yousif terbangun “ya”…

Salwa       : “Aku pikir.. “

Yousif       : Teruskan!

Salwa       : “Kalau kamu melibatkan diri juga mengajukan lamaran

Yousif       : “Aku akan berusaha”. Kebahagiaan yang tipis datang dari diri Yousif dia senang permpuan ini mencintainya.

Sekarang dia harus bersaing dengan Adel Farhat untuk mendapatkan Salwa.

 

13

Yousif pun memberanikan diri mengatakan kepada orang tuanya bahwa ia ingin melamar Salwa. Karena Salwa telah dilamar oleh Adel Farhat, ayah Yousif tidak setuju begitu pula ibunya. Karena usianya baru 17 tahun.

Tetapi Yousif bersikeras karena dia akan berjuan akan melindungi Salwa seperti ia akan berjuang mempertahankan Palestina.

Setelah itu Yousif pergi menemui Jamal karena ining berjumpa dengan Salwa di rumah Jamal. Ternyata yang datang bukan Salwa melainkan Huda sahabatny, Huda mengatakan bahwa Salwa akan bertunangan dengan Adel Farhat.

Yousif shok tubuhnya lemas dan akhirnya ia nekat menemui Ayah Salwa danmengajaknya  bicara empat mata. Disitu Yousif mengungkapkan perasaannya kepada Ayah Salwa. Mendengar itu Ayah Salwa marah karena takut anaknya sudah disentuh oleh Yousif.

Ayah salwa mengusir Yousif. Sampai dirumah Yousif mendesak orang tuanya dan orang tuanya menyetujuinya. Dan pergi menemui keluarga Salwa. Tetapi telah terlambat Salwa akan bertunangan dengan Adel Farhat. Dan akan menikah pada bulan Juni atau Juli setelah Salwa lulus SMA.

 

14

Kota Ardallah dikejutkan oleh menghilangnya seluruh penduduk Yahudi. Yousif dan Amin bangun dan heran karena penduduk Yahudi termasuk teman mereka Issak pergi tanpa pamit. Beberapa hari kemudian Yousif menerima Surat dari Issak, yang isinya permohonan maaf karena tidak pamit dan keberadaannya sekarang di Fellaviv di bawah gerakan bawah tanah Yahudi.

Setelah membaca surat itu Yousif membalas secepat mungkin. Setelah itu Yousif pergi ke Klinik ayahnya. Tapi karena ayahnya pergi ke Kafe Dahrawi, Yousif pun menyusul kesana, disana ia menemui ayahnya bersama dengan Abu Hanep dan ikut berbincang dengan mereka. Tetapi tiba-tiba ada keributan datang Tentara Inggris dengan Atlit terkenal yaitu Rasses dan George Pinkley. Karena tentara itu tidak membayar upah Semir Sepatu itu dengan harga yang telah ditetapkan dan mengakibatkan tentara Inggris mati dan semua orang yang ada di Café itu dan semua penduduk Ardallah di interogasi untuk menemukan pembunuh tentara itu.

 

15

Semua penduduk Ardalah diduyun menuju gereja, oleh tentara Inggris karena rumah mereka akan digeledah untuk menemukan barang bukti siapa pembunuh tentara Inggris. Bayangkan gereja katolik Roma yang hanya berkapasitas 300 orang harus menampung 2000 orang. Di gereja itu Yosep dapat bertemu dengan Salwa tetapi dia tidak bias berbicara dengan salwa, hanya bias memandang saja karena di sana ada ayah Salwa, di sana dia juga bertemu dengan Dokter Fareed Aviva dan istrinya dan juga bertemu dengan Paman Boulus dan Bibi Hilameh. Setelah sekian lama berada di gereja itu, pemeriksaan di rumah selesai dan semua orang yang berada di gereja disuruh keluar dan diperiksa lagi. Pada pemeriksaan itu terjadi konflik yang dapat diredakan. Setelah itu semua penduduk dibebaskan kembali ke rumah mereka masing-masing.

 

16

Kematian kembali melanda Ardalah. Korbannya kali ini adalah seorang muslim yaitu Hani Mahmud dan seorang Kristen yaitu Mitry Freij. Mereka meninggal di dalam bus menuju Javva.

Mereka meninggal karena tembakan dari teroris. Untuk menghormati mereka Yousif menghadiri pemakaman Mitry dan ayahnya menghadiri pemakaman Hanni. Esok harinya terjadi penyerangan dari Kaum Yonis (Yahudi), seluruh penduduk Ardalah keluar membantu menangkap teroris tersebut termasuk Yousif. Akhirnya, berkat bantuan penduduk, pejuang-pejuang Ardalah seperti Basim dan ketuanya Abdul Al Kadir Basim dan setelah ditangkap dan teroris-teroris itu adalah anak-anak, mereka semua berjumlah 17 orang yang 2 tewas dan 15 tersangka.

Dan ternyata salah satu teroris tersebut adalah Isacc sahabat Yousif. Dan Isacc dibawa oleh seseorang ke Tel Aviv untuk dijadikan seorang teroris, Isacc terpaksa melakukan itu karena diancam dan Isacc adalah anak yang baik dan sangat mencintai Ardalah dan tidak mungkin melakukan itu, tetapi penduduk Ardalah tidak percaya dan menembak mati Isacc.

Yousif yang memberontak dan dipukul oleh salah satu penduduk Ardalah dan jatuh pingsan. Keesokan harinya di rumah Yousif hanya terdiam terus mengingat kenangannya bersama sahabatnya itu. Untuk menghilangkan stress ia pergi melihat burung-burung peliharaannya ke kandang dan memberi makan, tiba-tiba Salwa muncul.

Salwa       : “Aku turut berduka atas Isacc”

Yousif       : “kenapa kau disini? Akan kacau kalau orang tahu kau di sini”

Salwa       : “Tadi ibumu bertemu ibuku dan aku diperbolehkan ke sini”.

Yousif       : “Kenapa perkawinan itu ditunda hingga juni atau juli?”

Salwa       : “Untuk memberimu gagasan bahwa sebenarnya aku memang tidak ingin menikah dengannya”

Yousif       : “Sekarang bagaimana? Bukankah ia akan menolak kamu ke sini? Kenapa kamu melakukannya?”

Salwa       : “Aku ingin kita bersahabat”

Yousif       : “Oh tentu, dulu kamu bilang mencintaiku”.

Salwa       : “Mungkin masih, tapi aku tidak bisa menikah denganmu”.

Yousif       : “Aku tidak tertarik, bawa persahabatanmu pergi”

Salwa       : “Kamu jadi pemarah Yousif”

Yousif       : “Pergilah Salwa”

 

Percakapan itu jadi sangat keruh, hampa, keinginan mereka tidak tercapai

Yousif       : “adakah kesempatan untukku salwa, adakah yang bisa kulakukan untuk menolongmu? Aku sudah menghadap ayahmu, bahkan aku meminta pada orang tua ku.

Salwa mengangguk

Yousif       : “Aku tak sabar lagi, ayahmu tau betapa serius hubungan kita, apa ia ingin kamu menderita seumur hidupmu? Kita sebaya, kita punya cita-cita, kita saling mencinta.

Salwa       : “Kamu ingin aku dibunuh?”

Yousif       : “Bilang bahwa Abdul Farhat adalah orang yang asing bagimu, bahwa kamu tidak nyaman di dekatnya”

Salwa       : “Ayah tahu itu”

Yousif       : “Tapi ia tetap ingin kamu menikah dengannya? Ayah macam apa itu?

Salwa       : “Ayah terbaik”

 

Pembicaraan itu menjadi ajang adu argument dan tidak menemukan titik temu.

Salwa       : “Maaf”

Yousif       : “Tak apa”

Salwa       : “Sedih sekali rasanya melihat ayah bersedih”

Yousif       : “Jangan mendekatiku tolong” pintanya. “jangan bangun harapanku”

 

Tiba-tiba ibu Salwa datang dan mengajak Salwa pulang. Yousif berpisah dengan Salwa.

 

 

17

                Musim semi tahun ini, diwarnai suara-suara tembakan yang mengejutkan. Awal April, tak biasanya angin semilir terasa panas. Pikiran Yousif melayang pada Salwa, meski Salwa sudah bertunangan dengan Adel Faarhat , Yousif yakin ia  masih mengisi pikiran Salwa, ia ingin berjuang namun tidak  dengan kekerasan.

15 Mei,Inggris akan meninggalkan Palestina, dan perang akan resmi dimmulai. Malam itu, Yousif berniat untuk  meminjam mobil ayahnya untuk menjadi sukarelawan Jaffa, yang telah di gempur. Namun keesokan harinya, erdenganr kabar bahwa Abd Al Qaddirmeninggal dan Yasin telahdilumpuhkan sehingga ayahnya berubah pikiran untuk mengizinkan Yousif.

Gadis – gadis diperkosa didepan orangtua mereka, para perempuan hamil dibelah perutnya dan bayi berserakan dilanai. Seorang lelaki dibakar menjadi abu ketika ia sedang tidur, kata penyiar radio dengan suara bergetar.

 

18

                Setelahmerayakan natal, kebanyakan laki-laki yang datang padamalam hari ke3 ini kerumah Yousif  tidak untuk berpesta. Terdapat orang tua, memakai jubah oanjang dddan abaya, sedangkan anak muda menggunakan busana ala barat,walikota disertai para dewan, mantan walikota. Malam ini perembukan tegang. Anggota dewan memaksa ayah Yousif untuk menyerahkan uang rumah sakit untuk membeli alat persenjaan. Namu ayah Yousif menolak,ia beragumen bahwa rumah sakit bias menyelamatkan banyak orang dan merawat korban- korban pertempuran. Sedangkan dengan uang yang minim tersebut, untuk membeli persenjataan akan sangat tidak memadai. Dan lain halnya dengan argument Yousif, ia mengajak kaum masyarakat Andallar untuk mau bersama melakukan delegasi dengan pihak Zionis. Namun saran Yousif tersebut ditolakmentah-mentah.

“Orang akan melupakan apapun yang pernah kulakukan untuk kota ini. Tapi aku tak peduli. Sejujurnya aku percaya bahwa orang- orang yang cinta damai akan mewarisi bumi ini. Orang Islam dan Yahudi pasti akan mencintainya, begitu juga Kristen. Sederhana, tapi begitu indah.

 

19

                Ayah Yousifmenyuruh Yousif untuk mewakilinya datang pada penyumbangan uang untuk pembelian persenjataan api. Terjadi pro kontra pada acara tersebut terhadap ayah Yousif. Dan diluar dugaan, saat pemungutan uang masih berlangsung, tiba- tiba sebuah pesawat terbang menderu diatas pepohonan, mengagetkan orang-orang. Seperti yang lain, Yousif mendongak keatasa dan melihat kepala pesawat itu mirip elang, model yang ketinggalan zaman. Tampak empat propeller dan dua sayapnya.

“Pesawat Yahudi,” teriak Yousif. Yousif meraih pinggang Salwa, namun Salwa berlari menjauh dari Yousif. Bom itu meledak. Mengguncang bumi, mengoyak balkon depan hotel, mencabik gerbang besi memecahkan kaca. Yousif masih mencari0cari Salwa untuk meyakinkan dir bahwa Salwa dalam keadaan aman. Dan pada saat itulah, Yousif melihat dahan besar patah dan akan menimpa Salwa. Dalam sekejap, Yousif menjatuhkan tubuhnya dekat Salwa dan ia membiarkan dahan besar itu menimpa punggungnya, mebcabik bajunya, mematahkan tangannya, mencederai lehernya. Yousif  merasakan kenyamanan dalam impitan.Sentuhannya kepada Salwa itu membuatnya cukup merasa sangat membutuhkan Salwaselamanya. Gerakan  Salwa membuat tubuhnya semakin dekat dengan Yousif.Yousif menikmati  kehangatan yang timbul diantara mereka. Kalau saja Yousif bias membuat Salwa melihat tak ada yang berarti selain cinta Yousif.

 

20

Setelah pengeboman di hotel tempat mereka mengumpukan uang, dokter safi hendak dituntut untuk memberikan uang rumah sakit. Sementara itu, uang dari hasil pemungutan di pakai untuk persenjataan. Yousif pun memutari dengan menyediakan makanan ke beberapa perbukitan (dengan Basim).

Cahaya matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, Yousif dan orang tuanya menikmati makan besar bersama-sama. Yousif bahagia melihat orang tuanya rileks. Meskipun di luar banyak kesulitan, di rumah ini mereka merasa damai. Bahkan meskipun tannpa riasan, wajah ibunya tampak cantik. Ketenangan hati ayahnyapun menunjukkan bahwa toleransinya terhadap kebodohan manusia. Yousif ingin suatu hari ia dan Salwa bias memahami dan memaafkan seperti ayahnya.

Yousif ingin menggagalkan pertunangan Salwa. Betapa ia tidak ingin kehilangan Salwa. “kami saling mencintai”. Kata YOusif sambil menyentuhkan ujung-ujung jemarinya.

“sudah empat tahun”. Yousif menjelaskan betapa ia encintai Salwa dan berusaha meminta bantuan Sitt Bahiyyeh, guru kesayangan Salwa untuk menggagalkan pertunangan Salwa.

 

21

Orang-orang Zionis datang dan menyerang Basi beserta anak buahnya di perbukitan tempat persembuyian mereka. Basim lalu dengan sigap mengkomando agar melakukan pertahanan. Orang zionis melempar beberapa granat dan korban-korban berjatuhan. Dalam pertempuran itu, Basim ikut terluka. Dokter Safi dan Yousif merawat Basim. Namun Basim memaksa untuk tetap melakukan peperangan. Yousif teramat menyayangi sepupunya Basim, yang terkena peluru di bahu tersebut.

“dimana dokter Safi? Dimana ayahku?” terriak Yousif ketika menyadari ayahnya hilang. Beberapa meter darinya, Yousif melihat dokter Safi tergeletak di tanah dengan kepala bersandar di tembok. Ia tampak kacau, berlumuran darah. Hati Yousif mencelat, mata ayahnya terpejam.

“ayah? Kau dengar aku?”. Ayah Yousif susah payah membuka matanya, melihat sang anak disisinya, ia tersenyum. Dokter Safi terkena peluru di perut dan dadanya. Yousif membuka baju ayahnya dan menutupi lukanya. Ia memeluk ayahnya dengan erat dan mulai terisak –isak. Peluru-peluru terus berdesingan dan meledak. Ayah Yousif menekan dadanya dengan kedua telapak tangannya yang berdarah. “rawatlah ibumu, bilang agar di tabah. Menikahlah dan beri ibumu banyyak cucu, ia akan menyukainya”. Digenggamnya tangan ayah dengan erat, dokter Safi membalas dengan lemah. Lalu tangan itu terkulai. Hati Yousif remuk redam. Ketika mata ayahnya tertutup, ia merasakan kesepian total. Yousif mendekatkan tubuhnya dan mencium kening ayahnya. Lalu ia tatap wajah yang tak asing itu yang kini kelihatan berbeda. Mata yang tajam itu tak akan lagi melihat cahaya. Bibirnya yang diam kini menyunggingkan senyuman hangat, senyuman yang tak pernah ia lihat sebelumnya.

 

22

Ibu Yousif menutup mulutnya dengan tangannya. Ibunya sudah tau, piker Yousif. Ibu Yousif menjerit, “apa ia menderita? Apa kau ada disampingnya saat ia meninggal? Apa ia mengatakan sesuatu?”. Tangis Yousif pecah lagi, ia tak mampu menjawab. Basim berdiri diantara keduanya dan mengajak mereka masuk.

Siangnya, lebih dari seribu orang bertemu di rumah Yousif untuk memberikan penghormatan terakhir. Iring-iringan berjalan lambat di tengah kota. Setiba di penguburan, “ dengan bantuan anda semua, rasa yang diimpikannya akan terwujud. Kalau tidak tahun depan, ya taun berikutnya. Kita akan mewujudkannya begitu perang ini usai dan Palestina selamat.” Ibunya tersedu sedan. Salwa menatap mata Yousif dengan pipi yang basah. Yousif membalas. Akhirnya, Salwa dan ibunya mengucapkan bela sungkawa kepada mereka. Tapi tidak dengan ayah Salwa. Ia hanya member penghormata kepada ibu Yousif.

Yousif menyukai puisi, tapi tidak sekarang. Drama yang sesungguhnya tengah di gelar di tanah ini. Penduduk di bunuh dan di cincang. Ia tak sabar terhadap kata-kata ataua gambar. Di hadapan, tragedy Deir Yasin dan kini Haifa. Puisi paling indah di dunia pun membuat jengkel hati Yousif. Bunyi tembakan sanapan teru mendenging di teinganya.

 

23

Adegan kematian di puncak bukit kembali tampil di kepala Yousif. Ayahnya yag terlentang di tanah, lukanya, kata-kata terakhirnya, serta kedamaian dan kebahagiaan di wajahnya. Pertempuran demi pertempuran terjadi terus, dan Yousif akui Arab akan kalah pada ronde pertama.

Yousif ingat suatu petkan puisi:

Jika suatu hari orang-orang mendamba hidup.

Sudah tentu nasib akan menjawab.

Pertanyaan-pertanyaan yang mengerikan terus membuntuti Yousif seperi hantu. Apakah mereka sedang diambang bencana baru? Apakah ia dan ibunya butuh pertolongan keuangan? Yousif tau mereka masih punya rumah lama, yang menjadi salah satu pemasukan dari sewaan. Ayahnya juga masih punya saham besar di gedung Bioskop Firyal.

Dua hari sebelum pernikahan Salwa, sekolah Yousif di liburkan karena acara kelulusan. Di pernikahan Salwa, ia disuruh berpidato. Tapi apakah mungkin ia mampu, sedangkan orang yang dicintainya menikah dengan lelaki lain. Dalam keputus asaan dan kesendiriannya, Yousif benar-benar merindukan ayahnya.

Tak ada yang bisa ia lakukan untuk mengubah hasil akhir perang, tapi ada sesuatu yang ia lakukan untuk mencegah Salwa terlepas dari tangannya. Kehilangan Salwa adalah beban yang terlalu berat yang harus di tanggungnya. Ketika ia berdiri di panggung seraya membungkuk ke arah hadirin yang menyambut hangat pidatonya, pikiran Yousif justru dipenuhi oleh pertempuran pribadi yang akan ia hadapi.

 

24

Minggu, hari pernikahan Salwa dengan orang lain. Hari ketika bumi mengelilingi matahari yang kian muram. Semalaman Yousif tak bisa tidur, melamun, sedih, khawatir. Ia hitung jam demi jam, menit demi menit. Ia tak memberi petunjuk kepada siapapun tentang rencana yang muncul di kepalanya, tidak pula pada Amin sahabatnya.

Ia ingin tahu apa yang di pikirkan Salwa. Ia ingin tahu apakah Salwa akan menyesal pada saat terakhir? Apakah ia sudah menyerah pada nasibnya?

Pernikahan itu akan berlangsung pukul 3 sore. Yousif menjelajahi kota, melewati Souk, sekolah Salwa dan gedung Bioskop Firyal. Selama satu jam, ia berjalan tanpa tujuan. Apa yang ada di pikirannya adalah Salwa akan seger lepas dari tangannya seperti cicin yang lepas dari jari yang licin karena sabun. Apa yang ia rasakan, ia akan kehilangan Salwa untuk selamanya. Ia akan hidup dalam kehampaan. Aku seorang yang tolol kalau membiarkan hal itu terjadi, piker Yousif. Kita kehilangan Palestina karena kita tak cukup berjuang untuk menyelamatkannya. Aku juga akan kehilangan Salwa kalau aku tidak berjuang.

Yousif segera datang ke gereja ortodoks Yunani tempat pernikahan akan dilangsungkan. Yousif menghadiri acara tersebut. Salwa terisak. “kalau ada dua orang yang sama-sama berani mengungkapkan keinginan mereka, tentu mereka pantas mendapatkannya,” kata Adel membuat semua hadirin bertepuk tangan.

Yousif bahkan menjadi lebih khawatir ketika melihat ayah Salwa mencengkram dadanya sendiri. Bagaimana jika laki-lakki itu tiba-tiba terkena serangan jantung dan mati sebelum hari Minggu? Tidakkah Yousif akan merasa bersalah seumur hidup? Hal-hal aneh terjadi. Apa yang ia peroleh, tanya Yousif pada dirinya, jika ia menolak Salwa selamanya? Anak-anak panah kerinduan dan keputus asaan mencabik-cabik hatinya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Dengan lunglai ia tutup matanya. Baik mulut maupun hidungnya berdarah akibat pukulan tadi. Namun yang lebih terasa sakit adalah apa yang akan ia hadapi di rumah.

 

25

Kabar tentang kelakuan Yousif yang mengejutkan sudah tiba lebih dulu sebelum Yousif datna gke rumah. Ibunya angat terluka mendengar kabar itu, “bagaimana bisa kau akan menikah, sedangkan baru sepuluh hari ayahmu meninggal”. “aku juga tak menginginkan sekarang ibu. Tapi ini maunya Anton Taweel.” Paman Boulus pun datang dan mendukung Yousif. Akhirnya sang ibu merestui perikahan anaknya minggu depan.

Yousif tak percaya akan keberuntungannya. Gadis paling cantik di dunia itu kini miliknya, tertawa bersamanya dan memegang tangannya. “aku Cuma berharap akan mencintaimu seuur hidupku seperti aku mencintaimu pada saat itu.”

Dan kini Adel Farhat, menjual semua barang yang ia beli untuk pernikahannya dengan Salwa pada Yousif. Adel tampak pasrah, meskipun pasti hatinya sangat terluka. Wajah Adel Farhat yang sudah kelihatan pucat berubah menjadi biru. Yousif salah kalau ia sudah menduga ia dan Salwa akan menikah. Namun mendengar kabar pernikahan mantan tunangannya itu tentu mambuanya terluka. Hati YOusif tersentak oleh kenyataan bahwa surgany begitu sedih. Namun kemudian memang tak ada yang pasrah mengatakan bahwa kehilangan Salwa itu mudah. Hati siapapun akan hancur.

 

26

Suatu malam sebelum pernikahan cahaya gemerlapan yang menghiasi rumah bertolak belakang dengan drama di balik tembok. Yosif berdiri di balkon sendirian. Matanya menjelajah di atas perbukitan Ardallah, tapi hatinya dipenuhi rasa duka sekaligus rasa suka. Orang-orang sedang mempertahankan kota dari kemungkinan serangan Yahudi dan lihatlah apa yang ia lakukan.

Ia teringat semua kenangan masa lalunya. Hari-hari ketika Palestina masih damai dan ayahnya masih hidup, Isaac dan alat musiknya, dan kini di acara penting Yousif, sepupunya Basim tak ada. Basim pernah berjanji akan menjadi saksi lelaki. Siapa yang bisa mengharapkannya datang? Untunglah Salman bersedia menggantikan Basim. Yousif sekarang ingin Amin, sahabat terbaiknya untuk menjadi saksi. Namun itu tak bisa, karena Amin seorang muslim.

Keesokannya, hari pernikahan Salwa dan Yousifpun tiba, semua orang bahagia. Terdengar alunan lagu, nyanyian dan tarian sepanjang hari. Tiulahtitik yng menentukan di dalam hidup mereka, pikir Yousif. Musuh di masa lalu menjadi sahabat di masa kini. Ketika Anton Taweel menyerahkan Salwa kepadanya.

Acara pernikahan telah selesai. Yousif dan Salwa kini telah menikmati bulan madu yan syahdu. Keduanya terihat grogi. Betapa Yousif sangat bahagia dengan saat-saat ini. Ketika Yousif menyentuh Salwa, ia tahu bahwa pikiran dan tubuhnya ada dalam kenyataan. Ia  juga tahu bahwa sebuah keajaiban seang menyentuh jiwanya.

 

27

Perang tak kenal pilih kasih, termasuk terhadap pernikahan Yousif. Sementara ia dan Salwa masih di masa bulan madu yang singkat, perang masih panas. Namun belum tampak ada gerakan majudi ke dua pihak. Suasana kian tegang.

“kami memproklamasikan berdirinya Negara di Palestina dan di namakan Medinath Israel, Negara Israel”. Kata seseorang di penyiaran radio. ISRAEL!!!! Nama ini mencabik-cabik tubuh dan jiwa Yousif seperti sebuah sikat baja menggores selembara kertas. Nama itu membakar telinganya seperti asam. Nama paling indah di bumi, Palestina, akan dig anti dan setidaknya separoh dari negeri ini akan diganti oleh sebuah nama yang begitu asing, sangat menjijikkan.

“aku selalu tahu bahwa Tuhan itu ada.” Ujar Salwa sambil mencengkeram kuat tangan Yousif. Basim kini masih memimpin pertempuran. Ia memang sangat berapi-api. Sambil memegang tangan Salwa, Yousif mencoba menerobos kerumunan untuk mencoba mencari Basim. Banyak yang ingin ia ceritakan dengan sepupunya itu, tapi Basim sudah lenyap.

 

28

Pertempuran pecah di sekitar Gaza, Galilee, dan Jerusallem. Namun gencatan senjata seperti yang pernah di singgung Basim dulu, kenyataannya akan berlangsung. Count Folke Bernadotte dari PBB sedang mencoba untuk merancang dihentikannya pertempuran selam tiga puluh hari.

 

29

Dalam waktu seminggu, sekitar sekitar sepuluh ribu pengungsi yang pernah melewati Ardallah pergi lebih jauh ke kota-kota pedalaman seperti Ramallah dan Nablus. Dalam waktu singkat, kamp-kamp pengungsian di bangun di Ardallah. Namun Yousif dan Izzat di tangkap oleh perrwira Zionis. Sekarang Yousif merasa tak berdaya. Dan ia membenci dirinya, sebab Salwa ada di sini. Melihatnya dalam keadaan begini. Hanya beberapa hari lalu ia menguliahi semua orang yang berniat pergi. Ia ingin mereka tinggal dan melawan. Melawan dengan apa? Ia bertanya-tanya tentang Basim dan anak buahnya di puncak bukit. Apakah mereka melawan? Apakah mereka tewas? Yousif dan keluarganya terusir dari rumahnya sendiri. Di depan rumah pamannnya, Yosif, Salwa, dan Yasmin bergabung dengan barisan panjang orang yang terusir.

 

30

Seperti anak-anak sungai besar, orang-orang mengalir lalu bergabung di jalan utama Ardallah membentuk barisan raksasa, sebuah prosesi terbesar yang pernah di lihat Yousif. Kegelapan malam terangkat pelan-pelan, langit mulai berwarna biru pucat di atas cabang-cabang pohon yang saling terjalin di halaman rumah.

Secara ironis, muazin di pasar tetap menaiki menara masjid seperti biasa, melengkingkan suaranya memanggil orang-orang untuk sholat. Seorang tentara Israel yang berdiri di jalan masuk ke lorong gelap berteriak memintanya diam, tapi tidak di gubris.

Salwa, Yousif dan ibunya tetap melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Salman. Ironis, sangking hausnya, mereka minum dari air susu Abla, istri Salman yang memiliki bayi. Mereka pun bercerita bahwa Hiyam dan Izzat di perkosa oleh tentara Israel.

Setelah cukuo beristirahat mereka melajnutkan perjalanan, yang beralwanan arah dari ppengungsi lain. Salwa melihat ayahnya, Anton Taweel terkapar di tanah sambil mengenggam dadanya. Isak tangis Salwa meledak, sebelum akhirnya Anton Taweel meninggal Yousif dan Salwa meminta maaf atas segala tindakan nekat mereka. Ayah Salwa telah memaafkan, dan kini ia terbujur kaku. Betapa perihnya hati Salwa, ia memeluk suaminya. Satu demi satu, termasuk Yousif mencium wajah mendiang sebagai tanda perpisahan.

 

31

Matahari tampak lebih dekat, lebih putih. Udara seakan-akan tidak lagi mengandung oksigen. Yousif sadar bahwa ia harus menjaga ibu dan adik-adik Salwa. Di tengah perjalanan, Yousif melihat lelaki tua yang menangis, Yousif hendak menolongnya. Ketika Yousif menghampiri lelaki tua itu, tiba-tiba empat pesawat Zionis terbang di atas mereka. Di jatuhkannya granat-granat, tapi tak ada yang meledak. Hal itu membuat kekacauan, orang-orang berhamburan ke mana-mana. Yousif kehilangan Salwa, ibu, dan adik-adik iparnya. Kemarahan mereka? Yousif mengutuk dirinya sendiri dan sempat mengutuk Tuhannya, dan ketika tersadar ia kemudian membuat salib di atas pasir sebagai tanda permohonan maaf kepada Tuhan.

 

32

Yousif dan ibunya melanjutkan perjalanan hingga akhirnya mereka sampai di padang pasir Yordania. Yousif seperti kehilangan arah, ia menoleh kebelakang. Tanah airnya sudah semakin jauh di belakang. Hanya beberapa menit berlalu, ia sudah merrasakan nostalgia. Lenyaplah Palestina dengan jeruk-jeruk dan zaitunnya.

Kata-kata mencair dari kepalanya seperti mata air, janji yang ia ucapkan di depan Salwa dua malam lalu harus di bayarkan. Dan kita akan melakukannya, ini bukan janji kosong. Dan janji ini di ucapkan bukan dari keraguan. Kita akan kembali, “aku berjanji atas dasar rasa hormat kepadamu dan kepada semua ibu yang menangis malam ini. Au berjanji demi mereka yng telah kehilangan segalanya, keluarganya, hak asasi, dan sekarang tercerai berai, anak-anak yang tidak bisa tidur karena lapar, bayi-bayi yang ikut mengungsi dan tewas karena kehausan, dan merreka yang tewas sepanjang jalan. Biarkan bulan yang memandang kita seperti mata satu yang berani, menjadi saksi: kita bamgkit lagi, kita akan kembali.”

 

 

Unsur Instrinsik

TOKOH

WATAK

Yousif Safi Pantang menyerah, berani, tegas, berpandangan luas
Salwa Taweel Pemalu, penurut, lembut
Dokter Jamil Safi (ayah Yousif) Tegas, berwawasan luas, berani
Yasmin Safi (ibu Yousif) Lembut, penyayang
Ammin Setia kawan
Isaac Pemberani, setia kawan
Basim Pemberani, patriotisme
Adel Farhat Dewasa
Anton Taweel Tegas, pemaaf

 

ALUR                             : maju

TEMA                            : perjuangan

SUDUT PANDANG       : orang ketiga

AMANAT                      :

-         jangan selalu menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan suatu masalah

-         hiduplah dengan kedamaian dan ketenteraman tanpa peperangan

-         cinta adalah anugerah dari Tuhan yang telah menjadi kodrat manusia dan tidak ada yang pantas menghalangi bersatunya sebuah cinta

-         perjuangkanlah cinta itu selagi ada kesempatan, atau harus menerima kehilangan cinta itu selamanya.

LATAR                           :

-         Latar waktu                         : pagi, siang, sore, malam

-         Latar tempat            : Palestina (Ardallah, Yordania, Jaffa)

-         Latar suasana          : tegang, sedih

GAYA BAHASA             : menggunakan kata-kata yang umum di gunakan, namun karena novel ini merupakan novel terjemahan, maka terdapat beberapa istilah-istilah yang biasa di gunakan di tanah Arab.

 

Unsur Ekstrinsik

Nilai Sosial

  1. Kekerabatan dalam masyarakat sangat erat

Halaman 13, paragraph 4: ““selamat” mereka berpelukan dan berciuman. Para tamu menyampaikan pujian dan kata-kata yang baik.”………..

  1. Jika ada seorang yang meninggal, maka semua masyarakat yang mengetahui akan berkabung.

Halaman 384, paragraph 1: “para tetangga dan kerabat terus berdatangan, semua dengan mulut terlipat, bingung, dan mata basah.”……………….

Nilai Budaya

Masyarakat yang menghadiri suatu acara pernikahan, bernyanyi, dan berdansa bersama untuk memeriahkan acara tersebut.

Halaman 46, paragraph 3: “semua orang mulai ikut menyanyi, menari, atau berrtepuk tangan.”…………

 

Nilai ekonomi

Halaman 10, paragraph 1: “dialah yang berpikir untuk membangun satu-satunya agen real estat di Ardallah.”……………….

 

Nilai filsafat

 

Nilai Politik

Halaman 10, paragraph 2: “pada setiap pemiliham dewan kota yang di ikutinya, Dokter Safi selalu menempati peringkat teratas.”…………

Halaman 329, paragraph 7: “ia pernah mendesak untuk menetapan kebijakan yang akan membuatnya memperoleh uang banyak tapi ayah menolak.”…………

This entry was posted in Artikel, Bahasa. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

* Copy this password:

* Type or paste password here:

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>